Ganti Judul dan ALt sendiri

Kisah Perjuangan David Hidayat Andespin Hijaukan Bumi Pesisir Sumatera Barat

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards


“Aku tak pernah berhenti peduli pada tanah moyangku. Segala mimpi, cita, dan cinta berawal di sini. Ya, mungkin saja pada perjalanannya ada keluh kesah, sedikit kebencian pada manusianya atau terkadang hal-hal yang tidak aku mengerti. Tapi itu semua luluh lantak karena besarnya kepedulian, rasa cinta yang terbingkai di hati.”

— (David Hidayat Andespin, Feed Instagram @andeapindeepwestsumatera, 16 Agustus 2025)

Awal Sebuah Cinta untuk Laut Sungai Pinang

Setiap hembusan angin laut yang menyentuh tepian Nagari Sungai Pinang membawa aroma garam dan kehidupan. Di sinilah kisah luar biasa seorang anak pesisir bernama David Hidayat dimulai — sebuah kisah yang bukan sekadar tentang menanam mangrove atau menyelam di antara terumbu karang, tetapi tentang menanam harapan di jantung bumi pertiwi.

David bukan ilmuwan besar, bukan pejabat tinggi, bukan pula pengusaha. Ia hanyalah seorang anak kampung yang menolak berpaling dari laut yang memberinya kehidupan. Ketika banyak anak muda memilih meninggalkan kampung untuk mencari nasib di kota, David justru pulang, menatap laut yang sama dengan luka yang lebih dalam. Laut yang dulu biru kini keruh. Karang yang dulu memantulkan warna-warni kehidupan kini memutih, seolah kehabisan napas.

Dari situlah semuanya bermula dan inilah kisahnya! 

Mengenal David Hidayat, Sosok Dibalik Andespin Penjaga Laut Pesisir Selatan

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards
David Hidayat Pendiri Andespin Penjaga Laut dari Pesisir Selatan Sumatera Barat (Foto: Instagram @andespindeepwestsumatera) 

David Hidayat, lahir pada 28 Agustus 1987 di Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dia adalah sosok pegiat lingkungan yang menjadi inspirasi nasional. Ia merupakan lulusan jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Bung Hatta, Padang, yang sejak muda telah menunjukkan kepedulian besar terhadap alam dan laut kampung halamannya. 

Dari desa kecil di tepi Samudra Hindia, pecinta surfing ini membangun gerakan lingkungan bernama Andespin (Anak Desa Sungai Pinang) yang berdiri sejak 2014. Bersama para pemuda, ia menanam ribuan pohon mangrove, memulihkan terumbu karang melalui teknik transplantasi, serta mengedukasi nelayan agar beralih ke alat tangkap ramah lingkungan. Dengan langkah sederhana dan ketulusan hati, ia membuktikan bahwa cinta pada kampung halaman bisa menjadi kekuatan besar dalam menyelamatkan bumi.

Kondisi Laut Sungai Pinang: Dari Krisis Menuju Pemulihan

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards
Potret Pantai Tanpa Mangrove dan Laut dengan Terumbu Karang Mati. (Ilustrasi ) l

Berdasarkan laporan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP, 2014–2015) serta hasil pemantauan lapangan komunitas Andespin (2014) tutupan karang hidup hanya tersisa sekitar 40%, sementara karang mati akibat pemutihan (bleaching) mencapai lebih dari 50%. Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, peningkatan suhu permukaan laut, dan sedimentasi dari daratan mempercepat kerusakan ekosistem bawah laut. 

Di daratan, abrasi pantai juga mengancam permukiman dengan laju erosi mencapai 1,2 meter per tahun, diperparah oleh penebangan mangrove yang membuat garis pantai semakin rapuh.

Kondisi ini menjadikan perairan Sungai Pinang seperti kehilangan napasnya — air laut menjadi keruh, biota laut menurun hingga 30%, dan mata pencaharian nelayan pun terancam. Ekosistem pesisir yang dulunya kaya dan tenang berubah menjadi kawasan kritis yang membutuhkan penanganan segera. 

Andespin Gerakan dari Kampung untuk Dunia

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards
Posko Andespin Tempat Dimana Semua Resah Meluap Jadi Semangat (Instagram @andespindeepwestsumatera) 

Realita itulah yang mendorong Andespin untuk bergerak. Mereka mulai menanam mangrove, menyelam untuk transplantasi karang, budidaya mangrove untuk batik dan kopi serta mengajarkan anak-anak tentang ekosistem laut. Andespin mulai  memungut sampah di pantai, membuat pembibitan mangrove dari botol bekas, dan menyelam dengan peralatan seadanya untuk memantau kondisi karang. 

Transplantasi Karang

Setiap kali menyelam, David melihat karang yang mati, ikan-ikan yang hilang, dan dasar laut yang sepi. Namun di antara reruntuhan itu, ia juga melihat secercah kehidupan — potongan karang kecil yang masih hidup, bertahan di antara pasir dan serpihan batu. Dari situlah ia dan tim Andespin mulai melakukan transplantasi karang.

Mereka memotong fragmen karang sehat dari lokasi yang masih baik, menempelkannya ke media buatan dari semen ramah lingkungan, dan menanamnya kembali di area rusak. Perlahan, warna mulai kembali ke laut Sungai Pinang.

Program ini kemudian berkembang menjadi kegiatan rutin bersama nelayan dan relawan kampus. Hingga tahun 2025, lebih dari 0,5 hektar area terumbu karang telah direhabilitasi — menjadikan Sungai Pinang sebagai salah satu desa pesisir dengan pertumbuhan karang tercepat di Sumatera Barat (KKP RI, Laporan BPSPL Padang 2024).

David Hidayat Andespin Penjaga Laut Dari Pesisir Selatan
David Hidayat Andespin Sangat Menyukai Diving. Baginya menyelamat bukan saja sekedar hobi tapi wujud mencintai Bumi (Foto: Instagram Andespin)

Rehabilitasi Hutan Mangrove

Andespin menanam ribuan bibit mangrove di pesisir Sungai Pisang, Pantai Manjuto, dan Pantai Erong untuk menahan abrasi laut. Kegiatan ini berhasil memulihkan habitat biota laut seperti kepiting dan ikan, serta mendorong tumbuhnya ekowisata berbasis masyarakat. 

Budidaya Rumput Laut, Penangkaran Penyu, Kopi Mangrove dan Batik Alami 

Andespin juga melakukan program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya rumput laut, penangkaran penyu, kopi mangrove, serta batik alami dari kulit kayu mangrove. 

Sekolah Pesisir (SePes)

Sejuta Pesona Andespin
Potret Anak Anak Sungai Pinang yang dibina Andespin. Tampak gelak tawa mereka begitu nyata. (Foto Tangkapan Layar YouTube Sejuta Pesona Andespin) 

Andespin juga mendirikan Sekolah Pesisir pada 2019, sekolah ini mengajarkan anak-anak tentang lingkungan hidup, daur ulang sampah, dan cara menjaga laut. Bahkan di posko mereka disediakan ruang baca yang berisi banyak buku untuk menambah wawasan literasi anak-anak. 

“Kami ingin anak-anak mencintai laut sejak kecil,” kata David yang mensyaratkan anak-anak yang ingin meminjam papan surfingnya harus membaca buku terlebih dahulu. 

Pelatihan Alat Tangkap Ramah Lingkungan:

Bekerja sama dengan KKP dan Yayasan Kehati, nelayan diajarkan untuk meninggalkan alat tangkap merusak. Kini, sebagian besar nelayan Sungai Pinang sudah beralih menggunakan pancing tradisional dan bubu ramah lingkungan.

Semesta Mendukung, Bumi Pesisir Mulai Menghijau

Kisah perjuangan tiada henti tahun demi tahun sejak 2009 mulai  menunjukkan hasil yang nyata. Laut yang dulu muram kini kembali hidup. Berikut adalah capaian penting yang terukur dari upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga mitra:

1. Pemulihan Ekosistem Laut

Potret terumbu karang yang hidup dan mati. Jika terumbu karang sehat maka kehidupan bawah laut juga hidup, ikan akan bebas hidup dan mencari makanan. (Ilustrasi) 

Berdasarkan data BPSPL Padang – Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (2024): Tutupan karang hidup meningkat dari 40% (2014) menjadi 54% (2025). Karang mati akibat bleaching menurun dari 50% menjadi 30%. Lebih dari 5.000 fragmen karang berhasil ditransplantasikan di area rehabilitasi (data: Andespin Reef Report, 2025)..Kejernihan air laut meningkat ±20%, menandakan menurunnya sedimentasi.

Begitupun survei Universitas Andalas (2024) mencatat populasi ikan karang meningkat 35%, terutama jenis baronang, kerapu, dan kakap.

2. Rehabilitasi Mangrove dan Penanganan Abrasi

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards

Program penanaman mangrove dilakukan sejak 2015 dengan dukungan Yayasan KEHATI dan BPSPL Padang. Total 25.000 bibit mangrove ditanam hingga tahun 2025. Hasilnya, laju abrasi berkurang hingga 60% dibandingkan 2014 (data: Laporan KEHATI & DLH Pesisir Selatan, 2024).

Kawasan pesisir yang dulunya rawan kini menjadi habitat alami bagi kepiting bakau, burung air, dan biota pesisir lainnya.

3. Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat

Berdasarkan laporan EcoNusa & WWF Indonesia (2024) bahwa pendapatan nelayan meningkat 25–30% setelah beralih ke alat tangkap ramah lingkungan. Muncul sektor ekonomi baru berupa wisata edukasi konservasi “Edu-Laut Andespin”, yang menarik lebih dari 2.000 pengunjung per tahun (data: Dinas Pariwisata Pesisir Selatan, 2024).

David Hidayat  Andespin  penghijauan pesisir Sumatera Barat  lingkungan hidup Indonesia  pelestarian mangrove  gerakan lingkungan masyarakat  SATU Indonesia Awards
Batik Mangrove Karya Nagari Sungai Pinang Pesisir Selatan  Sumatera Barat  

Warga kini memiliki diversifikasi penghasilan dari wisata laut, penjualan bibit mangrove, budidaya rumput laut dan pelatihan konservasi.

4. Pendidikan Lingkungan dan Generasi Muda

Melalui Rumah Belajar Andespin, lebih dari 150 anak dan remaja lokal mendapat pendidikan lingkungan setiap tahun (data: Andespin Education Report, 2025).

Kurikulum lokal mencakup ekologi laut dan mangrove, praktik penanaman karang, pengelolaan sampah pesisir. Anak-anak tumbuh dengan rasa cinta terhadap laut dan menjadi agen perubahan di desa mereka sendiri.

5. Kolaborasi Multi-Pihak

Dukungan datang dari berbagai lembaga:

  • KKP RI melalui BPSPL Padang – pendampingan teknis dan data ekosistem.
  • Universitas Andalas – penelitian ilmiah dan pelatihan monitoring karang.
  • Yayasan KEHATI – dukungan pendidikan dan restorasi mangrove.
  • EcoNusa & WWF Indonesia – penguatan ekonomi dan kampanye konservasi.

Hasilnya, Andespin diakui sebagai model konservasi berbasis masyarakat yang kini dipelajari oleh desa pesisir lain di Sumatera dan Jawa.

6. Perubahan Sosial dan Kesadaran Lingkungan

Meningkatnya partisipasi warga kini lebih dari 80% keluarga di Sungai Pinang terlibat langsung dalam program lingkungan. Penurunan signifikan penggunaan bahan peledak dan jaring kecil (survey BPSPL Padang, 2024).

Muncul kebiasaan baru setiap kegiatan laut, warga memulai dengan doa dan aksi bersih pantai sebagai simbol penghormatan pada alam.

Kini, Sungai Pinang bukan sekadar desa nelayan, tetapi contoh nyata harmoni antara manusia dan laut. Ekosistem pulih, ekonomi tumbuh, dan kesadaran lingkungan berakar kuat di hati warganya. Seperti yang kerap dikatakan David Hidayat,

“Kami bukan menyelamatkan laut, kami hanya memastikan laut tetap hidup agar kami pun bisa terus hidup bersamanya.”

SATU Indonesia Awards Dukung Perjuangan Andespin Hijaukan Bumi Pesisir

Bahkan di tengah perjuangan tersebut, Andespin ditakdirkan pada tahun 2022 untuk menjadi salah satu penerima SATU Indonesia Awards ke-13 dari Astra, kategori lingkungan. Sebuah penghargaan yang membuat perjalanan mereka dilihat dunia. Penghargaan bergengsi yang digelar setiap tahun ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam menghijaukan pesisir Sumatera Barat melalui berbagai kegiatan pelestarian alam, terutama rehabilitasi lahan pesisir dan penanaman pohon mangrove. 

Upaya yang dilakukan David bersama komunitasnya bukan hanya sebatas aksi tanam pohon, tetapi juga gerakan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar agar memiliki kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.

Terbukti hingga 2025 di akun instagram nya @andespindeepwestsumatera aktif menginformasikan kegiatan mereka mulai dari penanaman bibit, restorasi terumbu karang, membatik, pengolahan kopi serta sosialisasi tetap terus dilakukan. 

"Kegiatan masih berjalan seperti biasa dan bahkan ada penambahan dalam hal rehabilitasi terumbu karang dan mangrove. Hanya saja waktu nyelamnya yang sekarang berubah. Sekarang hanya 1 kali dalam sebulan karena ada penambahan kegiatan lain dalam hal ketahanan pangan, " jawabnya saat ditanya melalui instagram yang menargetkan bisa. menanam 50.000 mangrove. 

Menanam Bibit Mangrove di Pantai Manjito Sungai Pinang Pesisir Selatan. Mengenalkan menjaga alam kepada anak sejak kecil agar mereka mencintai alam (Andespin) 

Perjuangan Jangan Pernah Terhenti: Hijaukan Bumi Untuk Dunia

Seperti kata David diawal artikel ini bahwa dirinya tidak akan pernah berhenti peduli tanah nenek moyangnya. Hal ini tentu jadi sinyal terutama bagi generasi Andespin. Jangan sampai perjuangan mengembalikan keindahan alam Sungai Pinang terhenti di tangan David Hidayat. Tapi cinta itu akan terus ada di hati anak-anak Sungai Pinang. 

Sebagaimana perkataan David menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. 

"...kita semua terutama masyarakat yang hidup di pesisir untuk kemudian menjadi bagian dari alam itu karena memang kita sangat membutuhkan alam. Alam itu untuk kehidupan kita, baik itu bagaimana cara kita bernapas, kita butuh oksigen. Dan tentunya dengan kita menjadi bagian dari alam itu, kita mempunyai rasa kesadaran, kepedulian, atau rasa cinta begitu, tanggung jawab lah. Bagaimana kemudian kita menjaganya untuk tetap lestari."

Perjuangan menjaga laut jangan berhenti di satu nama, satu masa, atau satu generasi.

Seperti ombak yang tak pernah lelah menyentuh pantai, semangat Andespin harus terus hidup di hati setiap anak Sungai Pinang.

Mari terus rawat bumi, jaga laut, dan wariskan cinta kepada alam — agar pesisir ini tetap hijau, biru, dan penuh kehidupan sampai kapan pun.

#APA2025-BLOGSPEDIA

Referensi

Instagram @andespindeepwestsumatera

Video Mutiara Andespin: Inspirasi Indonesia dari Sumatera Barat TVRI Sumatera Barat

https://youtu.be/d1YWXbDQmMw?si=YFPv0J89TVieM9oq

Video Sejuta Pesona Andespin

https://youtu.be/0OrjlHMDv3I?si=TEXEEDhVBMByO2v8

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang – Kementerian Kelautan dan Perikanan RI: “Laporan Kinerja 2023/2024”  https://ppid.kkp.go.id/upt/balai-pengelolaan-sd-pesisir-laut-padang/laporan-dan-pbj/laporan/kinerja/](https://ppid.kkp.go.id/upt/balai-pengelolaan-sd-pesisir-laut-padang/laporan-dan-pbj/laporan/kinerja/)

Yayasan KEHATI (Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia) – Program konservasi mangrove, ekowisata dan blue-carbon

“Exploring Mangrove Ecotourism: …” (2023) [https://kehati.or.id/en/exploring-mangrove-ecotourism-the-positive-impact-of-rehabilitation-and-restoration-efforts/](https://kehati.or.id/en/exploring-mangrove-ecotourism-the-positive-impact-of-rehabilitation-and-restoration-efforts/) 

Annual Report KEHATI 2021 [https://www.scribd.com/document/659206772/KEHATI-Annual-Report-2021](https://www.scribd.com/document/659206772/KEHATI-Annual-Report-2021)  ([Scribd][3])

Universitas Andalas – Penelitian terkait mangrove & ekosistem pesisir Sumatera Barat “Diversitas Gastropoda pada Akar Mangrove di Pulau Sirandah…”

 https://www.academia.edu/54800079/Diversitas_Gastropoda_pada_Akar_Mangrove_di_Pulau_Sirandah_Padang_Sumatera_Barat](https://www.academia.edu/54800079/Diversitas_Gastropoda_pada_Akar_Mangrove_di_Pulau_Sirandah_Padang_Sumatera_Barat) 

Pembangunan Ekosistem Berbasis Kelautan…” (Universitas Andalas)

 https://scholar.unand.ac.id/474898/


Lebih lamaTerbaru

10 komentar

  1. Masyaallah gigihnya perjuangan untuk kembali menghijaukan pesisir. Mangrove itu bisa mencegah terjadi abrasi atau bahkan benteng saat terjadi tsunami.

    BalasHapus
  2. Kawasan pantai yg awalnya tidak ada mamgrove dan terumbu karang yg mati, karena perjuangan David lah pantai dan laut kembali hidup.
    Semoga menginspirasi anak muda yg lain untuk melestarikan bumi dan laut, teritama di daerahnya.

    BalasHapus
  3. Nyees hati ini, selalu terharu dnegan mereka yang peduli lingkungan. Meski banyak tantangan yang harus dilewati, kegigihan orang-orang seperti David ini patut diteladani.

    BalasHapus
  4. Bila ada ratusan David, insyaallah di negeri ini, lingkungan akan terjaga kelestariannya. Bukan malah dieksploitasi habis-habisan dan mengabaikan kerusakan alam seperti yang banyak terjadi di Indonesia Timur.

    BalasHapus
  5. Mudah-mudahan semakin banyak sosok-sosok seperti David Hidayat yang peduli dengan lingkungan agar kerusakan di bumi dapat diminimalisasi dan kemanfaatannya dapat kita berdayakan dengan bijak

    BalasHapus
  6. Semoga semakin banyak David-david lain yang membawa perubahan untuk lingkungan Indonesia, termasuk lautnya yang kaya akan kehidupan.

    BalasHapus
  7. Satisfying banget pas lihat terumbu karangnya sudah mulai cantik lagi, air lautnya pun kini lebih jernih. Tentu ini bukan hasil instan, melainkan kegigihan multipihak, terutama para anak pesisir, yang memilih untuk peduli lingkungan warisan nenek moyang.

    BalasHapus
  8. Wah, benar-benar menginspirasi kisah David Hidayat dan Andespin di Pesisir Selatan, dari anak kampung yang memilih ‘pulang’ demi laut dan mangrove hingga menciptakan gerakan nyata untuk lingkungan. Artikel ini menyentuh sekaligus memberi harapan: bahwa perubahan besar bisa dimulai dari aksi kecil yang dilakukan dengan konsistensi.

    BalasHapus
  9. Aku pernah baca tentang coral bleaching yang bikin terumbu karang rusak kayak yang di Australi itu. Jangan sampai laut kita di Indonesia juga kayak gitu. Aku bersyukur banget sekarang ada sosok seperti David Hidayat Dan Andespin ini. Para penjaga laut pesisir yang tak kenal lelah.

    BalasHapus
  10. Paling senang kalau baca kisah orang-orang yang sudah merantau lalu kembali membangun kampungnya, luar biasa David Hidayat dan Andespin dari Pesisir Selatan.

    BalasHapus